Baca Terkini Lebih Mudah Menggunakan Aplikasi Berau Terkini.

Air Bersih Butuh Perhatian Khusus Warga Trans Sambaliung

TANJUNG REDEB – Jarak dengan ibukota Tanjung Redeb tidak jauh, namun kebutuhan air bersih sangat dibutuhkan warga Kampung Trans Sambaliung. Sudah bertahun–tahun mengharapkan tersedianya air bersih yang memadai dari pemerintah daerah, tapi hingga kini belum bisa dinikmati.

Hal itu diungkap saat anggota DPRD Berau, Hj Elita Herlina melakukan reses ke daerah itu, belum lama ini. Menurut Elita, kebutuhan air bersih harus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah daerah. Karena untuk mencukupi kebutuhan sehari–hari warga setempat, terpaksa melakukan pengeboran mencari sumber mata air. Tapi, warga yang tidak mampu, terpaksa membuat sumur dan mengandalkan air hujan dengan kualitas air seadanya. Sudah bertahun–tahun.


“Kita ada program persediaan air bersih perkotaan bagi warga penghasilan rendah. Saya rasa warga Trans Sambaliung bisa mendapatkan sarana air bersih ini. Jadi tinggal kesiapan kita saja. Tetapi yang menjadi permasalahan kemarin adalah, KUA-PPAS sudah disepakati sebelum anggota DPRD baru, sehingga APBD 2020 tidak bisa diotak-atik lagi. Tinggal disahkan,” terangnya.

Menurutnya, keterlambatan bukan dari pemerintah daerah, tetapi pemerintah pusat. Informasi hibah air bersih saat anggota dewan melakukan bimtek di Bali, itu baru disampaikan pemerintah pusat. Sementara KUA-PPAS 2020 sudah selesai. “Infonya tahun 2020 tidak ada hibah air bersih, tapi pada Agustus 2019, Kementerian PUPR menyampaikan ada. Namun KUA-PPAS sudah disepakati. Sehingga harapan satu–satunya paling cepat melalui APBD perubahan 2020 mendatang. Kalau pun molor, terpaksa melalui APBD 2021,” ungkapnya.

Selain air bersih, warga juga ingin pembangunan drainase. Karena sejauh ini drainase sepanjang poros jalan kiri kanan belum dibangun drainase. “Kalau mesim hujan rumah–rumah warga yang berdomisili di trans Sambaliung ini banyak yang kebanjiran,” terangnya.

Sementara di Kampung Long Lanuk, Kecamatan Kelay, Elita mendapat keluhan terkait pembangunan infrastruktur jembatan gantung dan pengaspalan jalan poros kampung. Perempuan berkacamata ini menyebutkan, akses menuju Kampung Long Lanuk, warga menggunakan jembatan perusahaan yang ada di sekitar kampung. Tetapi dianggap sangat rawan. Sehingga harus dibangunkan jembatan gantung yang permanen.

“Karena aksesnya cuma itu, terpaka mereka menumpang jembatan perusahaan yang ada, karena tidak ada pilihan lain untuk menuju Kampung Long Lanuk,” katanya.

Pengaspalan jalan tak luput dari aspirasi. Sebab di musim kemarau, jalan poros kampung sangat berdebu, sehingga tidak mengganggu dan berdampak terhadap kesehatan warga. “Hasil reses akan saya perjuangkan di APBD 2021, karena APBD murni 2020 sudah close. Kalau pun bisa diakomodir di APBD perubahan 2020, alhamdulillah,” pungkasnya. (*)