Baca Terkini Lebih Mudah Menggunakan Aplikasi Berau Terkini.

Sisi Sains Ganja yang Direstui Dihapus dari Obat Berbahaya

PBB merestui rekomendasi WHO untuk menghapus ganja dari obat paling berbahaya. Secara umum, ganja sendiri terdiri dari dua jenis CBD dan THC. (AP/Fernando Llano)

Jakarta — Komisi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) merestui rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menghapus ganja dari kategori obat paling berbahaya di dunia dan bisa digunakan untuk keperluan medis.

Secara umum, ganja sendiri terdiri dari dua jenis CBD (cannabidiol) dan THC (tetrahydrocannabinol).

CBD memiliki sangat sedikit zat berbahaya, sementara THC adalah zat yang memberikan efek “high” ketika mengonsumsi ganja.

Mengutip Harvard Medical School, pada ganja dengan strain yang dominan CBD, hanya memiliki sedikit atau tidak ada kandungan THC sama sekali. Sehingga, dilaporkan pasien sangat sedikit mengalami perubahan kesadaran.

Dari dua jenis ini, ganja dengan strain CBD yang biasa digunakan untuk pengobatan. Penelitian terbatas menunjukkan bahwa CBD dapat mengurangi kecemasan, mengurangi peradangan dan meredakan nyeri, hingga membunuh sel kanker, epilepsi, dan memperlambat pertumbuhan tumor.

Cannabinoid juga diakui memiliki bahan kimia aktif yang mirip dengan bahan kimia yang dihasilkan tubuh guna meningkatkan nafsu makan, ingatan, hingga rasa sakit.

Ganja tipe Epidiolex yang terbuat dari CBD digunakan sebagai bahan terapi bagi penderita epilepsi yang sangat parah atau sulit diobati. Dalam percobaan dan penelitian itu, beberapa orang mengalami penurunan kejang yang dramatis setelah mengonsumsi ganja itu.

Epidiolex sendiri telah disetujui pada 2018 lalu untuk mengobati kejang yang terkait dengan dua tipe epilepsi langka dan parah, yakni sindrom Lennox-Gastaut dan sindrom Dravet.

“Bukti terbesar untuk efek terapeutik, ganja berhubungan dengan kemampuannya untuk mengurangi nyeri kronis, mual dan muntah akibat kemoterapi, dan spastisitas atau otot kaku atau kaku,” jelas Spesialis penyalahgunaan zat di Fakultas Kedokteran Universitas Pennsylvania Perelman, Marvel Bonn-Miller dikutip dari laman berita kesehatan Inggris WebMD.

Bonn-Miller pun menjelaskan cara konsumsi ganja obat ini sangat variatif. Penyintas dapat mengonsumsi ganja obat melalui alat yang disebut vaporizer, dimakan biasa seperti ditambahkan di dalam brownies atau lollipop, menaruh beberapa tetes cairan di bawah lidah. Menurut Bonn-Miller, perbedaan cara konsumsi bakal memberi pengaruh berbeda juga terhadap tubuh.

Ganja memiliki beberapa bahan kimia yang mirip dengan tembakau. Maka ada kekhawatiran bahwa konsumsi ganja dengan merokok juga dapat membahayakan paru-paru. Namun, efek ganja yang dihirup pada kesehatan paru-paru masih belum jelas. Tapi, ada beberapa bukti bahwa hal itu dapat meningkatkan risiko bronkitis dan masalah paru-paru lainnya.

“Jika Anda memakannya, dibutuhkan waktu yang jauh lebih lama. Butuh 1 hingga 2 jam untuk merasakan efek dari produk yang dapat dimakan,” jelasnya.

Bantu pecandu opioid

Sementara itu Ahli Bedah Saraf Sanjay Gupta memberi catatan bahwa penggunaan ganja untuk medis menurunkan kematian akibat overdosis opioid antara 1999 dan 2010 di AS.

“Ini bukan pertama kalinya hubungan antara ganja medis dan overdosis opioid ditemukan. Meskipun terlalu dini untuk menggambarkan hubungan sebab-akibat, data ini menunjukkan bahwa obat ganja dapat menyelamatkan hingga 10.000 nyawa setiap tahun,” kata Gupta dilansir dari CNN.

Gupta bilang, ganja dapat membantu mengobati rasa sakit, mengurangi ketergantungan awal akan opioid. Ganja juga efektif untuk meredakan gejala penarikan opioid, seperti pada pasien kanker, yang sakit akibat efek samping kemoterapi.

Di Indonesia, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sempat menetapkan tanaman ganja sebagai salah satu tanaman obat komoditas binaan Kementerian Pertanian. Ketetapan itu termaktub dalam Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian yang ditandatangani Menteri Syahrul sejak 3 Februari lalu.

Namun, tak lama berselang ia mencabut aturan itu. Mentan menyatakan bahwa pihaknya akan mengkaji dengan berkoordinasi dengan Badan Narkotika Nasional RI (BNN), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

sumber : https://www.cnnindonesia.com/