Baca Terkini Lebih Mudah Menggunakan Aplikasi Berau Terkini.

Solusi Banjir Kalau Pemkot Bingung, Pengamat: Berdayakan Pawang Hujan

Yustinus Sapto Hardjanto. (Tebe/Disway Kaltim)

Samarinda, berauterkini.id – Terkini, banjir makin akrab dengan Kota Samarinda. Penanganan banjir oleh Pemkot Samarinda yang sudah menghabiskan triliunan rupiah belum juga mampu mengendalikan aliran air.

Sebenarnya, tidak sulit menanggulangi banjir. Cukup memberdayakan pawang hujan saja. Demikian disampaikan oleh pengamat lingkungan hidup Samarinda, Yustinus Sapto Hardjanto saat ditemui Disway Kaltim pada Selasa (26/5/2020).

“Arahkan saja pawang sakti untuk memindahkan hujan. Agar tidak mengguyur Samarinda,” kata Yuntinus.

Menyiapkan dan memberdayakan pawang dirasa lebih mudah dan murah. Sumber daya manusianya bisa didapat dari orang lokal.

“Itu solusi paling masuk akal karena saat ini kita sudah tidak bisa berharap pada siapapun. Jadi mending gunakan magis saja,” ucapnya.

Tentu usul Yustinus soal pawang tidak serius. Itu hanya bentuk kekesalan terhadap kinerja Pemkot Samarinda yang tidak juga mampu mengurangi dampak banjir di Kota Tepian.

“Pemerintah kita ini tidak mau belajar. Tidak pernah serius pula mengatasi banjir,” kesalnya.

“Banjir Karang Mumus sudah bertahun-tahun. Selalu berulang.Tapi pemerintah selalu excuse. Belum normalisasi lah, apa lah. Padahal bukan itu persoalannya,” lanjut Yustinus.

Sejak Jumat (23/5/2020) malam, sebagian wilayah Samarinda direndam banjir. Hari raya Idulfitri pun dilalui puluhan ribu warga dengan menyelamatkan barangnya dari banjir. Tak seperti biasanya, banjir kali ini memang berasal dari DAS Karang Mumus. Hujan intensitas tinggi di hulu SKM ditambah dengan Sungai Mahakam yang sedang pasang membuat air tertahan lebih lama. Terutama di kawasan rendah yang berdekatan dengan SKM.

Dari kejadian ini, Yustinus menilai harusnya pemerintah bisa mengambil pelajaran besar. Tentang menangani Sungai Karang Mumus. Agar tidak lagi menjadi penyebab banjir.

“Masalah di Karang Mumus tidak akan selesai hanya dengan normalisasi saja. Sedalam apa pun SKM dikeruk, permukaan airnya tetap sama,” jelasnya.

Belum lagi secara geohidrologi tanah Samarinda didominasi lempung dan pasir halus. Sehingga kemampuan tanah untuk menyerap air lambat. Jika curah hujan tinggi, ditambah Sungai Mahakam sedang pasang. Maka otomatis air akan mengalir dan tertahan di kawasan rendah. Yang tidak lain adalah pemukiman dan jalan raya.

Berharap dari Bendungan Benanga pun kini sudah tidak bisa lagi. Kemampuan Benanga untuk menahan air dari hulu kini sudah tidak bisa lagi. Akibat sedimentasi yang tinggi.

“Maka solusinya adalah membuat daerah dataran banjir. Jadi daerah itu akan dibiarkan tetap banjir,” usulnya.

Saat curah hujan terlebih di hulu SKM tinggi, air bisa ditahan di kawasan banjir tersebut. Sekaligus menjadi daerah simpanan air saat musim kemarau. Sehingga kuantitas dan kualitas air di SKM tetap terjaga.

“Daerah yang paling cocok adalah di bawah Benanga. Daerah Muang Ilir sampai Betapus. Pemerintah harus membeli kawasan tersebut. Saya yakin itu tidak akan ribet urusannya,” tegasnya.

“Kelebihannya lagi, daerah tersebut adalah rawa yang ditumbuhi tumbuhan rawa sehingga bisa menyaring sedimen sebelum dialirkan ke SKM lagi,” tutupnya.

Kini persoalannya adalah Pemkot Samarinda mau serius atau tidak menangani masalah banjir. (*)

sumber : diswaykaltim